Selasa, 06 Desember 2011

tinjauan teoritis tentang diare


BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A.    Tinjauan Teoritis
1.      Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo,2003)
      Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior) (Notoatmodjo,2003)
Pengetahuan yang cukup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu :
1)      Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu ”tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rencah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2)      Memahami ( comprehension)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari.


3)      Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4)      Analisis (  Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5)      Sintesis ( synthesis )
Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
6)      Evaluasi ( Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2.      Sikap
a.      Defenisi Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. (Notoatmodjo, 2003).
b.      Tingkatan Sikap
Tingkatan Sikap menurut Notoatmodjo (2007: 144)
1)      Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2)      Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang  diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3)      Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4)      Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
c.       Komponen Sikap
Benyamin Bloom (1908) dikutip dalam Notoadmodjo (2007: 139) membagi perilaku manusia itu ke dalam 3 domain, ranah atau kawasan yakni:
a) kognitif (cognitive)
b) afektif (affective)
c) psikomotor (psychomotor)
            Dalam bagian lain Allport (1954) dikutip dalam Notoadmodjo, (2007: 143) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
1)      Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2)      Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3)      Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
(Notoadmodjo, 2007: 143).
3.      Konsep Dasar Diare
a.       Defenisi Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya di tandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari tiga kali sehari dan pada neonates lebih dari empat kali sehari dengan atau tanpa lender darah(Hidayat,A2006).
            Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari .
Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).
b.      Etiologi
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis.
1)      Faktor infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:
a)      Infeksi oleh bakteri: Escherichia colin, Salmonella thyposa, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas. Infeksi basil (disentri),
b)      Infeksi virus Rotavirus, Norwalk dan norwalk like agen dan adenovirus
c)      parasit, misal: cacing perut, Ascaris, Trichiuris, Strongyloides, Blastsistis huminis, protozoa, Entamoeba histolitica, Giardia labila, Belantudium coli dan Crypto
d)     Infeksi jamur (Candida albicans).
e)      Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis dan radang tenggorokan, dan
f)       Keracunan makanan

2)      Faktor malabsorpsi
Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.
3)      Faktor makanan
Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran) dan kurang matang. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak dan balita.
4)      Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. Tetapi jarang terjadi pada balita, umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.


c.       Patofisiologi
Menurut Depkes (2010) proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan, diantaranya:
1)      Faktor infeksi
Proses ini dapat diawali adanya mikroba atau kuman yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit atau juga dikatakan bakteri akan menyebabkan sistem transporaktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit meningkat.
2)      Faktor malabsorbsi
Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare.
3)      Faktor makanan
Dapat terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare.
4)      Faktor psikologis
Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi kecepatan gerakan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare.


d.      Jenis diare
Penyakit diare menurutDepkesRI(2000), berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat yaitu :
1)      Diare Akut
Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
2)      Disentri
Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa.
3)      Diare persisten
Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.
4)      Diare dengan masalah lain
Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Diare akut dapat mengakibatkan: (1) kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia, (2) Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah, (3) Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah (Soegijanto, 2002).
Diare mengakibatkan terjadinya:
a)      Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, dan asidosis metabolik.
b)      Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal.
Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah, kadang-kadang orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan. Sebagai akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat mengakibatkan kejang dan koma (Suharyono, 2008).
e.       Gejala diare
Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis metabolik. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15% (Soegijanto, 2002).
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai: muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin, 2007).
Menurut Ngastisyah (2005) gejala diare yang sering ditemukan mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja mungkin disertai lendir atau darah, gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. Bila penderita benyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan menurun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya (Suharyono, 1986). Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat.
f.       Penatalaksanaan diare
Pemeriksaan etiologi diare secara rutin di laboratorium tidak praktis dan gejala kliniknya juga tidak sfecifik. Oleh kaarena nya pengobatan penderita diare harus berdasarkan pada gejala utama penyakit dan pengertian dasar tentang mekanisme patogenesisnya. Prinsip utama pengobatannya adalah sebagai berikut :
1)      Diare membutuhkan pergantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya
2)      Makanan di haruskan bahwa harus di tingkatkan selama diare menghindarkan efek buruk pada gizi. Antibiotic boleh di gunakan secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare dengan panas kecuali pada disentri yang harus di obati dengan dengan antimikroba yang aktif untuk singgela. Penderita-pendrita yang tidak memberi respon dengan pengobatan ini harus di teliti terlebih dahulu atau di obati untuk kemungkinan ameobiasis.
g.      Pencegahan diare
Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah agar anak-anak tidak terjangkit penyakit diare, hal-hal tersebut adalah:
1)      Memberikan ASI
ASI turut memberikan perlindungan terhadap terjadinya diare pada balita karena antibodi dan zat-zat lain yang terkandung di dalamnya memberikan perlindungan secara imunologi.
2)      Memperbaiki makanan pendamping ASI
Perilaku yang salah dalam pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan resiko terjadinya diare sehingga dalam pemberiannya harus memperhatikan waktu dan jenis makanan yang diberikan. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai dengan memberikan makanan lunak ketika anak berumur 6 bulan dan dapat diteruskan pemberian ASI, setelah anak berumur 9 bulan atau lebih, tambahkan macam makanan lain dan frekwensi pemberikan makan lebih sering (4 kali sehari). Saat anak berumur 11 tahun berikan semua makanan yang dimasak dengan baik, frekwensi pemberiannya 4-6 kali sehari.
3)      Menggunakan air bersih yang cukup
Resiko untuk menderita diare dapat dikurangi dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanannya di rumah.
4)      Mencuci tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan.
5)      Menggunakan jamban
Upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko penularan diare karena penularan kuman penyebab diare melalui tinja dapat dihindari.
6)      Membuang tinja bayi dengan benar
Membuang tinja bayi ke dalam jamban sesegera mungkin sehingga penularan kuman penyebab diare melalui tinja bayi dapat dicegah.
7)      Memberikan imunisasi campak
Anak yang sakit campak sering disertai diare sehingga imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih parah lagi (Depkes, 2010).
B.     Penelitian Terkait
Adapun penelitian terkait, yaitu :
1)      Gunawan wibisono(2009).penelitian yang berjudul hubungan antara pengetahuan orang tua tentang diare dengan prilaku orang tua dalam pencegahan diare di wilayah kerja puskesmas kismantoro kabupaten wonogiri. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dimana pengukuran variabel dilakukan satu kali. Populasinya adalah kepala keluarga yang mempunyai anak di bawah 5 tahun dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kismantoro Kabupaten Wonogiri yaitu sejumlah 285 Kepala Keluarga. Pengambilan sampel secara simple random sampling dengan jumlah sampel 35 sampel, pengambilan data menggunakan kuesioner dan uji statistik chi square dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil dan Kesimpulan : Penelitian menunjukkan bahwa bahwa nilai chi square hitung 41,552 (p = 0,000 < p = 0,05) yang berarti ada hubungan antara pengetahuan orangtua tentang diare dengan perilaku orangtua dalam pencegahan diare di wilayah kerja Puskesmas Kismantoro Kabupaten Wonogiri.
2)      Sri pratiwi(2003). Penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan, sikap dan praktik ibu terhadap pencegahan penyakit diare pada anak berusia di bawah umur lima tahundi desa Mojogedang. Metode penelitian ini dikumpulkan dengan metode explanatory survey yang menggunakan pendekatan cross sectional. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji Spearmen Rank. Sampel penelitian adalah ibu yang mempunyai anak balita di desa Mojogedang sebanyak 67 orang. Hasil penelitian menunjukkan 88,1% responden berumur 20-35 tahun; 44,8% tamat SD dan 62,7% buruh tani. Berdasarkan pengetahuan, sikap dan praktik yang dimiliki responden 41,8% berpengetahuan kurang, 46,3% bersikap kurang dan 49,8% mempunyai praktik kurang. Hasil dari analisa statistik dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap responden; pengetahuan dengan praktik responden dan sikap dengan praktik responden dalam pencegahan penyakit diare pada anak berusia di bawah umur lima tahun. Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik responden dalam pencegahan penyakit diare, dianjurkan responden di desa Mojogedang rajin mendatangi penyuluhan terutama penyuluhan mengenai diare dan apabila anaknya sakit diare segera dibawa ke sarana pelayanan kesehatan (Pusat Kesehatan Masyarakat) terdekat.
C.    Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui penelitian – penelitian yang di lakukan (Notoatmodjo,2005).
            Adapun skema konsep pada penelitian ini, yaitu hubungan antar variable independent (pengetahuan ibu) dan variable dependent (sikap ibu terhadap pencegahan diare) di jelaskan dalam skema sebagai berikut :
Skema kerangka konsep

Sikap ibu terhadap pencegahan diare
-          Positive
-          negative
 
Pengetahuan ibu
- Baik
- Cukup
- Kurang

 
   Variable Independent                                                 Variable Dependent





Tidak ada komentar:

Posting Komentar