BAB III
METODE PENELITIAN
Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah penelitan korelasi dengan rancangan cross sectional, yakni merupakan rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan variable independen ( pengetahuan ibu) dan variable dependen ( sikap ibu terhadap pencegahan diare) pada saat bersamaan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi Penelitian
Penelitian ini di lakukan di desa siabu wilayah kerja puskesmas salo. Alasan pemilihan tempat dalam penelitian ini karena di dapat banyaknya kasus diare pada di wilayah tersebut.
Waktu Penelitian
Penelitian ini di laksanakan pada tanggal 02 s/d 10 Desember 2011
Populasi dan Sampel
Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang akan di teliti (notoatmodjo, 2003). Sebagai populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang mempunyai anak Usia 0-14 tahun yang pernah terkena diare di desa siabu Wilyah Kerja Puskesmas Salo yaitu sebnyak 205 orang.
Sampel
Sampel merupakan bagian populasi yang di pilh dengan “sampling” tertentu untuk memenuhi atau mewakili populasi.
Yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak Usia 0-14 tahun yang pernah terkena diare di desa siabu Wilyah Kerja Puskesmas Salo.
Kriteria Sampel
Kriteria Inklusi
ibu yang mempunyai anak Usia 0-14 tahun yang pernah terkena diare di desa siabu Wilyah Kerja Puskesmas Salo
Bersedia menjadi responden
Kriteria Ekslusi
Ibu yang memiliki anak yang tidak pandai membaca dan menulis di desa siabu Wilyah Kerja Puskesmas Salo
Teknik Pengambilan Sampel
Tehnik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling adalah cara pengambilan sampel dari anggota populasi dengan menggunakan acak tanpa memperhatikan strata dalam anggota populasi tersebut ( suwarno,2007).
Besar Sampel
Untuk menghitung besarnya sampel dapat di hitung dengan menggunakan rumus :
n = N/(1+N.d^2 )
n = 205/(1+205.〖0,05〗^2 )
n = 205/(1+205.0,0025)
n = 205/(1+0,5125)
n = 205/1,5125
n = 135,53
Keterangan :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
d2 = presisi yang ditetapkan 0,052 ( notoatmojo, 2005)
Jadi, jumlah sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 136 orang.
Etika Penelitian
Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat penting dalam penelitian, mengingat penelitian berhubungan langsung dengan manusia, maka segi etika peneltian harus di perhatikan. Maslah etika penelitian yang harus di perhatikan antara lain:
Lembar Persetujuan ( Informed Consent )
Merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dan responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Alah Informed consent tersebut di berikan sebelum penelitian dilakukan. Tujuan informed consent adalah subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Jika calon responden bersedia, maka mereka akan mendatangi lembaran persetujuan tersebut. Jika responden tidak bersedia, maka peneliti harus menghormati hak pasien.
Tanpa Nama ( Anomity )
Untuk menjaga kerahasian responden maka peneliti tidak akan mencantumkan namanya pada lembaran pengumpulan data, cukup dengan memberikan nomor kode pada lembar pengumpulan data.
Kerahasiaan ( confidentiality )
Kerahasian hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalah lainnya akan di jamin kerahasiaannya oleh peneliti.
( Hidayat, 2007 ).
Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang di gunakan pada penelitian ini yaitu berupa kusioner yang berisikan sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan pengetahuan ibu dan sikap ibu terhadap pencegahan diare.
Untuk mengetahui pengetahuan responden tentang diare ( variabel independen), peneliti menggunakan kusioner yang terdiri dari 16 pertanyaan dalam bentuk multiple choise dengan menyilang salah satu jawaban yang benar.
Untuk mengetahui sikap responden terhadap pencegahan diare (variable dependen), peneliti menggunakan daftar pernyataan berupa skala likert pertanyaan sebanyak 10 item, di mana untuk skor pernyataan di beri skor sebagai berikut :
Positif ( + ) Negative ( - )
Sangat setuju : 4 Sangat setuju : 4
Setuju : 3 Setuju : 3
Tidak setuju : 2 Tidak setuju : 2
Sangat tidak setuju : 1 Sangat tidak setuju : 1
Prosedur Pengumpulan Data
Dalam peneltian ini, peneliti akan mengumpulkan data dengan prosedur sebagai berikut :
Mengajukan surat permohonan izin kepada institusi STIKes Tuanku Tambusai untuk melakukan penelitian di wilayah kerja puskesmas Tapung I.
Setelah mendapatkan surat izin, penelti memohon izin kepada kepala Puskesmas Tapung I untuk melakukan penelitian di wilayah kerjanya.
Selanjutnya, peneliti mencari ibu yang menjadi sampel dalam penelitian ini.
Peneliti akan memberikan informasi secara lisan dan tulisan tentang tujuan, manfaat dan etika penelitian kepada responden.
Jika ibu bersedia menjadi responden, maka mereka menandatangani surat persetujuan menjadi responden yang di berikan oleh peneliti.
Setelah responeden menjawab semua pertanyaan, maka kusioner di kumpulkan kembali untuk di analisa.
Selasa, 27 Desember 2011
Rabu, 14 Desember 2011
Wasiat Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu
Wasiat Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam
kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu
(Dikutip dari Adl-Dhiyâul Lâmi‘ Minal Khuthâbil Jawâmi“,
karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn, 6/264-269.)
Wahai kaum Muslimin,
Marilah kita bertakwa kepada Allâh Ta’ala dan menghafal wasiat Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu (anak paman beliau). ‘Abdullâh bin Abbâs radhiyallâhu'anhu berkata, “Suatu hari aku berada (membonceng) di belakang Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Beliau bersabda kepadaku,
“Wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa kalimat;
Jagalah Allâh, niscaya Allâh Ta’ala akan menjagamu;
Jagalah Allâh, pasti kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.
Kenalilah Allâh di saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu ketika sempit.
Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allâh.
Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allâh.
Ketahuilah bahwa sekiranya semua makhluk berkumpul
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu,
niscaya mereka tidak akan bisa memberikan kamu manfaat
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan kepadamu.
Dan sekiranya mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu bahaya kepadamu,
niscaya mereka tidak kuasa mendatangkan bahaya itu kepadamu,
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan untukmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.
Maka, apa saja yang ditakdirkan menimpamu, pasti tidak akan luput darimu
dan apa saja yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.
Ketahuilah, sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan
dan bersama musibah ada jalan keluar dan setelah kesulitan ada kemudahan.”[1]
Wasiat yang agung ini hendaklah dihafal dan diamalkan oleh seorang Muslim, karena dengan mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.
Wasiat yang pertama, adalah menjaga Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau, “Jagalah Allâh”, maksudnya adalah menjaga agama dan ketentuan-ketentuannya, dengan cara menjaga ketaatan dan menegakkan hukum-hukumnya.
Jika hukum-hukum tersebut berupa kewajiban, dia tidak melanggarnya dan jika hukum-hukum itu berupa hal-hal yang diharamkan, dia meninggalkan dan menjauhinya. Maka, siapa yang menjaga Allâh Ta’ala, Allâh Ta’ala akan menjaganya, menjaga agama, keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allâh Ta’ala adalah salah satu sebab agama seorang hamba akan terjaga hingga meninggal dunia, juga merupakan sebab keluarga seorang hamba terjaga saat mereka hidup dan setelah meninggal dunia. Sehingga, hal-hal yang tidak dikehendaki pun tidak terjadi pada mereka. Sebagaimana firman Allâh Ta’ala:
“... sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh ....”
(Qs al-Kahfi/18:82)
Keduanya dijaga oleh Allâh Ta’ala karena ayahnya. Dan menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala menjadi sebab seorang hamba terjaga.
Allâh Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar
dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(Qs ath-Thalâq/65:2-3)
Berapa banyak seseorang yang diberkahi hartanya dan diselamatkan dari berbagai macam musibah karena dia menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala.
Wasiat kedua, menjaga Allâh Ta’ala menyebabkan datangnya hidayah, sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Jagalah Allâh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Ini juga termasuk di antara faedah menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala bagi seorang hamba. Dia akan mendapati Allâh Ta’ala di hadapannya, memberinya hidayah kepada kebaikan dan memudahkan semua urusannya. Sehingga, semua urusannya menjadi mudah.
Wasiat ketiga, adalah menjaga Allâh Ta’ala di saat lapang. Sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Kenalilah Allâh di saat lapang, kelak Allâh akan mengenalimu di saat sempit.”
Biasanya seseorang yang berada di saat lapang merasa gembira dan lupa dengan hukum-hukum Allâh Ta’ala. Ini yang biasanya terjadi pada kebanyakan orang. Sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
"Dua nikmat yang sering menipu kebanyakan orang,
yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR al-Bukhâri)
Adapun orang-orang yang diberi taufik oleh Allâh Ta’ala, mereka mengetahui bahwa keadaan seseorang tidak selamanya lapang. Setiap manusia pasti merasakan kesempitan baik kesempitan itu berupa kematian, meninggalkan harta, keluarga dan anak. Di saat lapang, mereka mengerjakan sesuatu yang kelak bisa mereka mintai pertolongan kepada Allâh Ta’ala di waktu sempit. Mereka mengenal Allâh Ta’ala dengan mengerjakan berbagai ketaatan.
Jadi, siapa yang mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit, dan kesempitan itu bisa berupa kekurangan, sakit, ataupun ketakutan. Dan kesempitan yang paling berat bagi seorang hamba adalah kematian.
Dalam keadaan ini, dia lebih membutuhkan kasih sayang Allâh Ta’ala dan rahmat-Nya. Pada keadaan ini, terkumpul dua kesempitan, pertama, sakitnya meninggal dunia, meninggalkan keluarga, anak dan harta benda. Dan kedua, sakitnya sempitnya rasa sakit yang dia alami pada waktu itu, beratnya ujian dan mempertahankan iman. Sesungguhnya setan sangat bersemangat untuk menggelincirkan hamba pada saat ini. Karena, itu adalah saat yang menentukan kebahagian dan kecelakaan seseorang.
Terkadang ditawarkan kepada seorang hamba agama Yahudi, Nasrani, atau lainnya dan pada saat itu sebagai fitnah baginya. Jika dia telah mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit. Allâh Ta’ala akan memberikan keteguhan kepadanya dan memberikan husnul khatimah (akhir hidup yang baik) baginya. Ya Allâh, jadikanlah akhir hidup kami husnul khâtimah.
Wasiat yang keempat dan kelima, memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau,
“Apabila kamu memohon, memohonlah kepada Allâh, dan apabila kamu meminta pertolongan, minta pertolonganlah kepada Allâh.”
Barang siapa yang ingin dipenuhi hajatnya, hendaknya dia meminta kepada Allâh Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,
“Mintalah karunia dari Allâh Ta’ala. Sesungguhnya Allâh senang dimintai doa.”
Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam membaiat sejumlah para Sahabat agar mereka tidak meminta-minta kepada manusia sedikitpun. Di antara mereka ada yang cemetinya atau tali untanya jatuh dan dia tidak minta seorangpun mengambilnya.
KHUTBAH KEDUA
Setelah menyampaikan wasiatnya, selanjutnya Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa seluruh manusia tidak akan mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali apabila telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala dan semua yang telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala pasti akan terjadi karena semua urusan telah selesai.
Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam juga memberikan wasiat bahwa setelah kesabaran ada kemenangan. Siapa yang sabar, dia akan menang dan memperoleh harapannya. Sesungguhnya setelah musibah itu ada jalan keluar. Apabila musibah menimpa kita dan kita merasakan kesempitan, maka ingatlah Allâh Ta’ala dan tunggulah jalan keluarnya. Sesungguhnya pertolongan Allâh Ta’ala itu dekat. Dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.
Wahai kaum Muslimin, inilah wasiat Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam kepada anak pamannya. Marilah kita hafal dan kita laksanakan agar kita mendapat keberuntungan.
Allâh Ta’ala berfirman:
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat,
yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud,
yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar
dan yang memelihara hukum-hukum Allâh,
dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu."
(Qs at-Taubah/9-112)
kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu
(Dikutip dari Adl-Dhiyâul Lâmi‘ Minal Khuthâbil Jawâmi“,
karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-Utsaimîn, 6/264-269.)
Wahai kaum Muslimin,
Marilah kita bertakwa kepada Allâh Ta’ala dan menghafal wasiat Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbâs radhiyallâhu'anhu (anak paman beliau). ‘Abdullâh bin Abbâs radhiyallâhu'anhu berkata, “Suatu hari aku berada (membonceng) di belakang Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam. Beliau bersabda kepadaku,
“Wahai bocah, aku akan mengajarimu beberapa kalimat;
Jagalah Allâh, niscaya Allâh Ta’ala akan menjagamu;
Jagalah Allâh, pasti kamu akan mendapati-Nya di hadapanmu.
Kenalilah Allâh di saat lapang, niscaya Dia akan mengenalimu ketika sempit.
Jika kamu memohon, maka memohonlah kepada Allâh.
Jika kamu meminta pertolongan, maka mintalah kepada Allâh.
Ketahuilah bahwa sekiranya semua makhluk berkumpul
untuk memberikan suatu manfaat kepadamu,
niscaya mereka tidak akan bisa memberikan kamu manfaat
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan kepadamu.
Dan sekiranya mereka berkumpul untuk mendatangkan suatu bahaya kepadamu,
niscaya mereka tidak kuasa mendatangkan bahaya itu kepadamu,
kecuali apabila hal itu telah ditakdirkan untukmu.
Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.
Maka, apa saja yang ditakdirkan menimpamu, pasti tidak akan luput darimu
dan apa saja yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.
Ketahuilah, sesungguhnya bersama kesabaran ada kemenangan
dan bersama musibah ada jalan keluar dan setelah kesulitan ada kemudahan.”[1]
Wasiat yang agung ini hendaklah dihafal dan diamalkan oleh seorang Muslim, karena dengan mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan keselamatan.
Wasiat yang pertama, adalah menjaga Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau, “Jagalah Allâh”, maksudnya adalah menjaga agama dan ketentuan-ketentuannya, dengan cara menjaga ketaatan dan menegakkan hukum-hukumnya.
Jika hukum-hukum tersebut berupa kewajiban, dia tidak melanggarnya dan jika hukum-hukum itu berupa hal-hal yang diharamkan, dia meninggalkan dan menjauhinya. Maka, siapa yang menjaga Allâh Ta’ala, Allâh Ta’ala akan menjaganya, menjaga agama, keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allâh Ta’ala adalah salah satu sebab agama seorang hamba akan terjaga hingga meninggal dunia, juga merupakan sebab keluarga seorang hamba terjaga saat mereka hidup dan setelah meninggal dunia. Sehingga, hal-hal yang tidak dikehendaki pun tidak terjadi pada mereka. Sebagaimana firman Allâh Ta’ala:
“... sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh ....”
(Qs al-Kahfi/18:82)
Keduanya dijaga oleh Allâh Ta’ala karena ayahnya. Dan menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala menjadi sebab seorang hamba terjaga.
Allâh Ta’ala berfirman:
"Barangsiapa bertakwa kepada Allâh niscaya Dia
akan mengadakan baginya jalan keluar
dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."
(Qs ath-Thalâq/65:2-3)
Berapa banyak seseorang yang diberkahi hartanya dan diselamatkan dari berbagai macam musibah karena dia menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala.
Wasiat kedua, menjaga Allâh Ta’ala menyebabkan datangnya hidayah, sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Jagalah Allâh, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Ini juga termasuk di antara faedah menjaga hukum-hukum Allâh Ta’ala bagi seorang hamba. Dia akan mendapati Allâh Ta’ala di hadapannya, memberinya hidayah kepada kebaikan dan memudahkan semua urusannya. Sehingga, semua urusannya menjadi mudah.
Wasiat ketiga, adalah menjaga Allâh Ta’ala di saat lapang. Sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
“Kenalilah Allâh di saat lapang, kelak Allâh akan mengenalimu di saat sempit.”
Biasanya seseorang yang berada di saat lapang merasa gembira dan lupa dengan hukum-hukum Allâh Ta’ala. Ini yang biasanya terjadi pada kebanyakan orang. Sebagaimana sabda Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam :
"Dua nikmat yang sering menipu kebanyakan orang,
yaitu kesehatan dan waktu luang."
(HR al-Bukhâri)
Adapun orang-orang yang diberi taufik oleh Allâh Ta’ala, mereka mengetahui bahwa keadaan seseorang tidak selamanya lapang. Setiap manusia pasti merasakan kesempitan baik kesempitan itu berupa kematian, meninggalkan harta, keluarga dan anak. Di saat lapang, mereka mengerjakan sesuatu yang kelak bisa mereka mintai pertolongan kepada Allâh Ta’ala di waktu sempit. Mereka mengenal Allâh Ta’ala dengan mengerjakan berbagai ketaatan.
Jadi, siapa yang mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit, dan kesempitan itu bisa berupa kekurangan, sakit, ataupun ketakutan. Dan kesempitan yang paling berat bagi seorang hamba adalah kematian.
Dalam keadaan ini, dia lebih membutuhkan kasih sayang Allâh Ta’ala dan rahmat-Nya. Pada keadaan ini, terkumpul dua kesempitan, pertama, sakitnya meninggal dunia, meninggalkan keluarga, anak dan harta benda. Dan kedua, sakitnya sempitnya rasa sakit yang dia alami pada waktu itu, beratnya ujian dan mempertahankan iman. Sesungguhnya setan sangat bersemangat untuk menggelincirkan hamba pada saat ini. Karena, itu adalah saat yang menentukan kebahagian dan kecelakaan seseorang.
Terkadang ditawarkan kepada seorang hamba agama Yahudi, Nasrani, atau lainnya dan pada saat itu sebagai fitnah baginya. Jika dia telah mengenal Allâh Ta’ala di saat lapang, maka Allâh Ta’ala akan mengenalnya di saat sempit. Allâh Ta’ala akan memberikan keteguhan kepadanya dan memberikan husnul khatimah (akhir hidup yang baik) baginya. Ya Allâh, jadikanlah akhir hidup kami husnul khâtimah.
Wasiat yang keempat dan kelima, memohon dan meminta pertolongan hanya kepada Allâh Ta’ala, sebagaimana sabda Beliau,
“Apabila kamu memohon, memohonlah kepada Allâh, dan apabila kamu meminta pertolongan, minta pertolonganlah kepada Allâh.”
Barang siapa yang ingin dipenuhi hajatnya, hendaknya dia meminta kepada Allâh Ta’ala. Dalam hadits disebutkan,
“Mintalah karunia dari Allâh Ta’ala. Sesungguhnya Allâh senang dimintai doa.”
Rasulullâh Shallallâhu 'Alaihi Wasallam membaiat sejumlah para Sahabat agar mereka tidak meminta-minta kepada manusia sedikitpun. Di antara mereka ada yang cemetinya atau tali untanya jatuh dan dia tidak minta seorangpun mengambilnya.
KHUTBAH KEDUA
Setelah menyampaikan wasiatnya, selanjutnya Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjelaskan bahwa seluruh manusia tidak akan mampu memberikan manfaat dan madharat kecuali apabila telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala dan semua yang telah ditakdirkan oleh Allâh Ta’ala pasti akan terjadi karena semua urusan telah selesai.
Beliau Shallallâhu 'Alaihi Wasallam juga memberikan wasiat bahwa setelah kesabaran ada kemenangan. Siapa yang sabar, dia akan menang dan memperoleh harapannya. Sesungguhnya setelah musibah itu ada jalan keluar. Apabila musibah menimpa kita dan kita merasakan kesempitan, maka ingatlah Allâh Ta’ala dan tunggulah jalan keluarnya. Sesungguhnya pertolongan Allâh Ta’ala itu dekat. Dan setelah kesulitan itu ada kemudahan.
Wahai kaum Muslimin, inilah wasiat Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam kepada anak pamannya. Marilah kita hafal dan kita laksanakan agar kita mendapat keberuntungan.
Allâh Ta’ala berfirman:
"Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat,
yang memuji, yang melawat, yang ruku’, yang sujud,
yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat munkar
dan yang memelihara hukum-hukum Allâh,
dan gembirakanlah orang-orang Mukmin itu."
(Qs at-Taubah/9-112)
Kisah Abu Dzar Al-Ghifari & wasiat Rasulullah
Kisah Abu Dzar Al-Ghifari & wasiat Rasulullah
Abu Zar Al Ghifari adalah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat dan amat mesra dengan beliau. Ia menyebut Rasulullah lain dari sahabat yang lain, menyebut beliau dengan sebutan "Khalili" (sahabatku yang akrab). Abu Zar menonjol dalam keikhlasannya berjuang, dan ia sangat cinta dan sayang kepada kaum fakir miskin, dan kerana itu ia sering disebut sebagai bapa kaum fakir miskin.
Sikap Abu Zar dalam menyampaikan dakwahnya dengan peringatan-peringatan di masa hidupnya. Beliau tetap bicara di depan umum sesuai dengan fungsinya sebagai ulama, yakni menyatakan kebenaran di mana saja. tidak mengira masa dan terhadap siapa sahaja tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa terpengaruh dengan kondisi dan situasi.
Dan sebagai salah seorang dari Sahabat Rasulullah saw, dengan keberanian dan kejujurannya yang menonjol, Abu Zar berkata kepada para penguasa waktu itu.
"Sekiranya kamu meletakkan pedang terhunus di leherku untuk mencegah aku dari mengucapkan kata-kata yang pernah aku terima dari Nabi Muhammad saw. Nescaya aku akan terus juga berbicara, walaupun leherku akan putus."
Kalau kita mengikuti bagaimana caranya Rasulullah membina Abu Zar sehingga ia merupakan kader pelapis perjuangan dan sahabat kesayangan Rasulullah berani dan matang, tentulah kita tidak akan merasa hairan bila kita melihat sikap, akhlak dan keberanian Abu Zar.
Pada suatu ketika yang lapang, Rasulullah mengajak Abu Zar berjalan-jalan keluar kota dengan mengenderai unta. Abu Zar membonceng di belakang Rasulullah saw. Di waktu saat yang tenang dan harmoni itulah Rasulullah saw menyampaikan wasiat-wasiat atau beberapan pesanan beliau sambil membina Abu Zar secara khusus itu.
Rasulullah saw membinanya supaya hidup sederhana, yakni di kala keduanya berada di dekat gunung Uhud yang terkenal dalam sejarah Islam itu. Nabi Muhammad saw berkata kepadanya:
"Andaikata gunung Uhud itu menjadi emas dan meminta supaya aku memilikinya, pasti aku menolaknya."
Dan dengarlah selanjutnya keterangan Abu Zar sendiri tentang pesan Rasulullah saw kepadanya. Di antaranya Rasulullah saw telah memerintahkan kepadaku 7 perkara iaitu:-
Ia memerintahkan aku untuk mencintai dan mendekati kaum fakir miskin;
Ia memerintahkan aku untuk memandang kepada orang yang dibawah aku (dalam urusan dunia) dan tidak memandang kepada orang yang diatasku.
Ia memerintahkan aku menghubungkan tali kasih-sayang sekalipun aku telah membelakanginya.
Ia memerintahkan aku untuk tidak meminta sesuatu apapun kepada seseorang.
Ia memerintahkan aku untuk tidak menaruh takut dalam berjuang pada jalan Allah terhadap reaksi celaan kaum reaksioner.
Ia memerintahkan aku untuk menyatakan kebenaran walaupun pahit.
Dan ia memerintahkan aku supaya banyak mengucapkan kalimah "La haula wala quawata illa billah." Kerana semua itu adalah simpanan yang terletak di bawah arasy.
Demikianlah antara lain pesanan Rasulullah sebelum beliau meninggal dunia, untuk membina para sahabatnya agar berjiwa besar, memiliki iman yang murni, sebersih-bersih tauhid dan keberanian moral yang tinggi dalam melanjutkan dakwah dan jihad beliau.
Abul Aswad Adduali berkata: "Ketika saya tiba di Arrabdzah (tempat pengasingan Abu Zar), maka saya pergi ke tempat Abu Zar (Jundub Bin Junadah), ra. maka ia berkata kepadaku, pada suatu hari saya bertemu dengan Nabi Muhammad saw di Masjid sendirian, tidak ada seorang pun selain Rasulullah maka saya berkata:
"Nasihatilah aku suatu wasiat, semoga Allah menjadikan manfaat bagiku." Jawab Nabi Muhammad, "baiklah dan semoga kau tetap mulia."
"Hai Abu Zar, sesungguhnya kau dari keluargaku, dan aku akan berwasiat kepadamu, maka ingat-ingatlah, kerana wasiat ini menghimpun segala kebaikan dan pelaksanaannya. Apabila kau jaga dan kau perhatikan nescaya kau akan mendapat dua bahagian pahala yang besar."
Cara Beribadah
Hai Abu Zar, sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat kepada-Nya. Maka bila nyata engkau tidak melihat Allah, maka yakinlah bahawa Allah melihat engkau.
Ibadat Yang Pertama
Dan ketahuilah, bahawa pertama sekali ibadat kepada Allah itu ialah makrifat Allah, bahawa ia yang pertama sebelum segala sesuatu, maka tiada sesuatu sebelum-Nya, dan tunggal tiada duanya, dan yang kekal maka tidak ada habisnya.
Dia Pencipta Langit dan Bumi dan apa yang ada di dalam dan di antara keduanya. Dialah Allah Yang Maha Halus dan mengetahui sedalam-dalamnya. Dan dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.
Kemudian percaya kepadaku, dan mengakui bahawa Allah mengutusku kepda semua manusia untuk menyampaikan khabar gembira dan mengancam, dan mengajak manusia kembali kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.Kemudian kasih sayang kepada keluargaku yang Allah telah hapuskan darii mereka segala kotoran dan telah mensucikan mereka sesuci-sucinya.
Kasihilah Keluarga Rasulullah
Hai Abu Zar ketahuilah bahawa Allah menjadikan keluargaku bagi umatku, bagaikan bahtera Nabi Nuh as. siapa yang naik di atasnya selamat, dan siapa yang mengabaikannya tenggelam, dan kasih kepada keluargaku bagaikan pintu penebus dosa Bani Israel, siapa yang memasukinya pasti aman.
Hai Abu Zar jagalah wasiatku ini nescaya kau akan bahagia dunia akhirat.
Dua Nikmat
Hai Abu Zar, dua macam nikmat, kebanyakan manusia rugi, kerana tidak mempergunakan dengan sebaik-baiknya, iaitu sihat dan waktu kosong.
Lima Sebelum Lima
Hai Abu Zar, gunakan lima sebelum tibanya yang lima, gunakanlah masa mudamu sebelum tuamu, dan masa sihatmu sebelum sakitmu, dan kekayaanmu sebelum miskinmu, dan kesempatanmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.
Jangan Suka Bertangguh
Hai Abu Zar, awaslah jangan menangguh-nangguh sangat perbuatanmu, kerana engkau tergantung pada hari ini, dan bukan pada hari yang sesudahnya, maka apabila esok hari itu juga hakmu, maka lakukan sebagaimana hari ini, dan bila esok itu bukan hakmu, maka engkau tidak menyesal kerana tidak memperlambat apa yang harus kau perbuat hari ini.
Hai Abu Zar, berapa banyak orang yang menghadapi sehari tidak cukup, dan menantikan esok hari yang tidak sampai.
Bencikan Angan-angan
Hai Abu Zar, andaikan engaku dapat melihat ajal dan perjalanannya, nescaya kau akan membenci angan-angan dan tipudayanya.
Hai Abu Zar, jadilah di dunia bagaikan orang yang asing, atau seorang yang lalu lintas dan anggaplah dirimu dari golongan orang-orang yang dikubur.
Hai Abu Zar, jika kau berada di waktu pagi, maka jangan merasa akan sampai petang, dan jika berada di waktu petang, jangan merasa akan sampai pagi, dan pergunakan masa sihat sebelum sakit, dan masa hidup sebelum mati, sebab kau tidak mengetahui apakah namamu kelak di hari kemudian.
Jaga Keruntuhan Sebelum Tergelincir
Hai Abu Zar, jika kau tidak dapat menjaga keruntuhan, sebelum tergelincir, maka tidak akan dapat dielakkan tergelincir, dan tidak akan ada kesempatan untuk kembali, dan tidak akan memuji kepadamu dengan peninggalanmu orang-orang yang kau tinggalkan, dan tidak akan memaafkan padamu Tuhan yang kau hadapi dengan kesibukanmu. (Yakni Allah tidak akan memaafkan kepadamu jika kau beralasan masih sibuk.)
Sayangkan Umurmu
Hai Abu Zar, sayanglah pada umurmu, lebih daripada kesayanganmu terhadap wang emas dan perakmu.
Perkara Yang Dinanti
Hai Abu Zar, apakah yang dinantikan oleh seseorang, kecuali kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan atau penyakit yang merosak atau tua yang melemahkan, atau mati yang menghabisi, atau dajal, maka ia sejahat-jahat yang dinantikan atau saat hari kiamat, maka itu lebih seram dan pahit.
Sejahat-jahat Manusia Di Hari Qiamat
Sesungguhnya sejahat-jahat manusia di sisi Allah pada hari kiamat, ialah seorang alim yang tidak berguna dengan ilmunya dan siapa yang menuntut ilmu sekadar untuk menarik perhatian orang-orang kepadanya, maka ia tidak akan mendapat bau syurga.
Hai Abu Zar, siapa yang mencari ilmu untuk menipu orang-orang maka tidak akan mendapat bau syurga.
Adab Mengeluarkan Fatwa
Hai Abu Zar, jika kau ditanya sesuatu yang tidak kau ketahui, maka jawablah, saya tidak mengetahui supaya selamat dari tanggungjawabnya, dan jangan memberi fatwa terhadap apa yang tidak kau ketahui, supaya selamat dari siksa Allah pada hari kiamat.
Anjurkan Kebaikan Tapi Tak Mengerjakannya
Hai Abu Zar, akan melihat beberapa orang ahli syurga kepada orang-orang ahli neraka, lalu bertanya, apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka, padahal kami telah masuk syurga kerana didikan dan ajaran-ajaran kamu.Jawab mereka sesungguhnya kami dahulu menganjurkan kebaikan dan tidak mengerjakannya.
Waktu Bertaubat
Hai Abu Zar, sesungguhnya hak-hak Allah itu besar, tidak mungkin dapat dilaksanakan semuanya oleh hamba, dan nikmat kurnia Allah lebih banyak dari apa yang dapat dihitung oleh hamba tetapi hendaklah kamu di waktu pagi dan petang selalu bertaubat.
Menuai Hasil Tanaman
Hai Abu Zar, sesungguhnya kau dalam perjalanan malam dan siang menghadapi ajal yang selalu berkurang, dan amal yang tercatat, sedang maut akan datang secara tiba-tiba, dan siapa menanam kebaikan pasti akan mengetam kebaikan.
Dan siapa yang menanam kejahatan pasti akan mengetam kemenyesalan, dan bagi tiap-tiap penanam hasil apa yang ditanamnya, orang yang lambat tidak dapat mendahului walau sekejap, dan orang yang tamak tidak dapat mencapai apa yang tidak ditakdir baginya.
Siapa yang mendapat kebaikan maka Allah yang memberinya, dan siapa terhidar dari bahaya maka Allah yang menghindarkannya (menyelamatkannya)
Memandang Dosa
Hai Abu Zar, orang-orang yang bertaqwa itu orang-orang yang mulia, sedang ulama fiqah itu sebagai pemimpin dan duduk dengan mereka bererti bertambah ilmu. Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya itu bagaikan bukit besar yan gdikhuatiri akan jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya itu bagaikan lalat yang hingap di atas hidungnya.
Tanda Orang Mendapat Kebaikan
Hai Abu Zar, sesungguhnya Allah taala jika berkehendak kebaikan terhadap hambanya maka menjadikan dosa-dosanya terbayang di ruang matanya dan jika menghendaki binasanya maka dilupakan akan dosanya, jangan kau melihat kecilnya dosa, tetapi perhatikan kepada siapakah kau berdosa itu.
Gelisah Orang Mukmin
Hai Abu Zar, sesungguhnya seorang mukmin lebih gelisah terhadap dosanya lebih daripada burung ketika dimasukkan ke dalam sangkarnya.
Penyesuaian Perkataan Dengan Perbuatan
Hai Abu Zar, siapa yang bersesuaian perkataan dengan perbuatannya, maka itulah orang yang untung dan siapa yang berlawanan perkataan dengan perbuatannya, maka ia akan membinasakan dirinya.
Hai Abu Zar, seorang itu tertahan rezekinya kerana dosa yang dilakukannya.
Peliharalah Lidah
Hai Abu Zar, tinggalkan apa-apa yang masih kau ragukan. Dan jangan mengucapkan apa-apa yang bukan kepentinganmu, dan peliharalah lidahmu sebagaimana memelihara emas perakmu.
Sifat Ahli Syurga Tingkat Tinggi
Hai Abu Zar, sesungguhnya Allah akan memasukkan suatu kaum dalam syurga dan memberi kepada mereka hingga puas, sedang di atas mereka ada pula kaum di tingkat tertinggi. Maka apabila melihat mereka, dikenal lalu mereka berkata,
Ya Tuhan, mereka itu adalah kawan-kawan kami ketika di dunia, maka dengan apakah mereka dilebihkan dari kami? JawabNya,
Jauh sekali dengan kamu, mereka dahulu lapar ketika kamu kenyang, dan haus ketika kamu puas, dan bangun ketika kamu tidur dan tegak ketika kamu berbaring.
Kepuasan Sembahyang
Hai Abu Zar, Allah telah menjadikan kesenanganku dalam sembahyang dan aku puas dengan sembahyang itu sebagaimana puas orang lapar dengan makanan dan orang haus dengan air, sedang orang lapar jika makan kenyang dan orang haus jika minum puas, dan saya tidak merasa kenyang dari sembahyang ( Yakni tidak jemu-jemu sembahyang).
Mengetuk Pintu Rahmat
Hai Abu Zar, sesungguhnya selama kau bersembahyang, maka bererti kau sedang mengetuk pintu rahmat Tuhan dan siapa yang selalu mengetuk pintu raja pasti akan dibukakan baginya.
Rahmat Orang Bersembahyang
Hai Abu Zar, tiada seorang mukmin yang berdiri sembahyang melainkan bertaburan di atasnya rahmat antara kepalanya sampai arasy dan malaikat berkata: Hai anak Adam, andaikan kau mengetahui kedudukanmu ketika sembahyang dan siapa yang kau ajak bicara, nescaya kau tidak akan berhenti.
Penjara Orang Mukmin
Hai Abu Zar, dunia sebagai penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir. Dan tiap hari mukmin berdukacita. Dan bagaimana tidak akan berduka, padahal ia telah diperingatkan akan melalui jahanam tetapi tidak diberitahu bahawa ia keluar daripadanya dan akan yang menjengkelkannya bahkan adakalanya teraniaya dan tidak tertolong maka selalu ia dukacita sehingga berpisah. Apabila ia telah terpisah dengan dunia ini menjurus ke tempat kehormatan dan istirehatnya.
Hendaklah Menangis
Hai Abu Zar, siapa yang dapat menangis hendaklah menangis dan siapa yang tidak dapat hendaklah merasa sedih dalam hatinya dan berusaha untuk menangis. Sesungguhnya orang yang keras hati jauh dari Allah tetapi kamu tidak merasa.
Waktu Aman dan Takut
Hai Abu Zar,Allah telah berfirman dan bermaksud: "Aku tidak akan menghimpun dua kali takut da dua kali aman, pada hambaKu, jika ia merasa aman daripadaku di dunia maka akan Aku takutkan ia di hari kiamat, dan bila ia merasa takut kepadaKu di dunia Aku amankan ia di hari kiamat."
Bahaya Hari Qiamat
Hai Abu Zar, andaikan di hari kiamat itu ada seorang mempunyai amal tujuh puluh nabi pasti ia akan merasa remah semua amalannya itu, bahkan ia masih merasa takut tidak akan selamat dari bahaya hari kiamat.
Abu Zar Al Ghifari adalah seorang sahabat Rasulullah yang terdekat dan amat mesra dengan beliau. Ia menyebut Rasulullah lain dari sahabat yang lain, menyebut beliau dengan sebutan "Khalili" (sahabatku yang akrab). Abu Zar menonjol dalam keikhlasannya berjuang, dan ia sangat cinta dan sayang kepada kaum fakir miskin, dan kerana itu ia sering disebut sebagai bapa kaum fakir miskin.
Sikap Abu Zar dalam menyampaikan dakwahnya dengan peringatan-peringatan di masa hidupnya. Beliau tetap bicara di depan umum sesuai dengan fungsinya sebagai ulama, yakni menyatakan kebenaran di mana saja. tidak mengira masa dan terhadap siapa sahaja tanpa mengenal ruang dan waktu, tanpa terpengaruh dengan kondisi dan situasi.
Dan sebagai salah seorang dari Sahabat Rasulullah saw, dengan keberanian dan kejujurannya yang menonjol, Abu Zar berkata kepada para penguasa waktu itu.
"Sekiranya kamu meletakkan pedang terhunus di leherku untuk mencegah aku dari mengucapkan kata-kata yang pernah aku terima dari Nabi Muhammad saw. Nescaya aku akan terus juga berbicara, walaupun leherku akan putus."
Kalau kita mengikuti bagaimana caranya Rasulullah membina Abu Zar sehingga ia merupakan kader pelapis perjuangan dan sahabat kesayangan Rasulullah berani dan matang, tentulah kita tidak akan merasa hairan bila kita melihat sikap, akhlak dan keberanian Abu Zar.
Pada suatu ketika yang lapang, Rasulullah mengajak Abu Zar berjalan-jalan keluar kota dengan mengenderai unta. Abu Zar membonceng di belakang Rasulullah saw. Di waktu saat yang tenang dan harmoni itulah Rasulullah saw menyampaikan wasiat-wasiat atau beberapan pesanan beliau sambil membina Abu Zar secara khusus itu.
Rasulullah saw membinanya supaya hidup sederhana, yakni di kala keduanya berada di dekat gunung Uhud yang terkenal dalam sejarah Islam itu. Nabi Muhammad saw berkata kepadanya:
"Andaikata gunung Uhud itu menjadi emas dan meminta supaya aku memilikinya, pasti aku menolaknya."
Dan dengarlah selanjutnya keterangan Abu Zar sendiri tentang pesan Rasulullah saw kepadanya. Di antaranya Rasulullah saw telah memerintahkan kepadaku 7 perkara iaitu:-
Ia memerintahkan aku untuk mencintai dan mendekati kaum fakir miskin;
Ia memerintahkan aku untuk memandang kepada orang yang dibawah aku (dalam urusan dunia) dan tidak memandang kepada orang yang diatasku.
Ia memerintahkan aku menghubungkan tali kasih-sayang sekalipun aku telah membelakanginya.
Ia memerintahkan aku untuk tidak meminta sesuatu apapun kepada seseorang.
Ia memerintahkan aku untuk tidak menaruh takut dalam berjuang pada jalan Allah terhadap reaksi celaan kaum reaksioner.
Ia memerintahkan aku untuk menyatakan kebenaran walaupun pahit.
Dan ia memerintahkan aku supaya banyak mengucapkan kalimah "La haula wala quawata illa billah." Kerana semua itu adalah simpanan yang terletak di bawah arasy.
Demikianlah antara lain pesanan Rasulullah sebelum beliau meninggal dunia, untuk membina para sahabatnya agar berjiwa besar, memiliki iman yang murni, sebersih-bersih tauhid dan keberanian moral yang tinggi dalam melanjutkan dakwah dan jihad beliau.
Abul Aswad Adduali berkata: "Ketika saya tiba di Arrabdzah (tempat pengasingan Abu Zar), maka saya pergi ke tempat Abu Zar (Jundub Bin Junadah), ra. maka ia berkata kepadaku, pada suatu hari saya bertemu dengan Nabi Muhammad saw di Masjid sendirian, tidak ada seorang pun selain Rasulullah maka saya berkata:
"Nasihatilah aku suatu wasiat, semoga Allah menjadikan manfaat bagiku." Jawab Nabi Muhammad, "baiklah dan semoga kau tetap mulia."
"Hai Abu Zar, sesungguhnya kau dari keluargaku, dan aku akan berwasiat kepadamu, maka ingat-ingatlah, kerana wasiat ini menghimpun segala kebaikan dan pelaksanaannya. Apabila kau jaga dan kau perhatikan nescaya kau akan mendapat dua bahagian pahala yang besar."
Cara Beribadah
Hai Abu Zar, sembahlah Allah seolah-olah engkau melihat kepada-Nya. Maka bila nyata engkau tidak melihat Allah, maka yakinlah bahawa Allah melihat engkau.
Ibadat Yang Pertama
Dan ketahuilah, bahawa pertama sekali ibadat kepada Allah itu ialah makrifat Allah, bahawa ia yang pertama sebelum segala sesuatu, maka tiada sesuatu sebelum-Nya, dan tunggal tiada duanya, dan yang kekal maka tidak ada habisnya.
Dia Pencipta Langit dan Bumi dan apa yang ada di dalam dan di antara keduanya. Dialah Allah Yang Maha Halus dan mengetahui sedalam-dalamnya. Dan dia atas segala sesuatu Maha Kuasa.
Kemudian percaya kepadaku, dan mengakui bahawa Allah mengutusku kepda semua manusia untuk menyampaikan khabar gembira dan mengancam, dan mengajak manusia kembali kepada Allah dengan izin-Nya, dan sebagai pelita yang menerangi.Kemudian kasih sayang kepada keluargaku yang Allah telah hapuskan darii mereka segala kotoran dan telah mensucikan mereka sesuci-sucinya.
Kasihilah Keluarga Rasulullah
Hai Abu Zar ketahuilah bahawa Allah menjadikan keluargaku bagi umatku, bagaikan bahtera Nabi Nuh as. siapa yang naik di atasnya selamat, dan siapa yang mengabaikannya tenggelam, dan kasih kepada keluargaku bagaikan pintu penebus dosa Bani Israel, siapa yang memasukinya pasti aman.
Hai Abu Zar jagalah wasiatku ini nescaya kau akan bahagia dunia akhirat.
Dua Nikmat
Hai Abu Zar, dua macam nikmat, kebanyakan manusia rugi, kerana tidak mempergunakan dengan sebaik-baiknya, iaitu sihat dan waktu kosong.
Lima Sebelum Lima
Hai Abu Zar, gunakan lima sebelum tibanya yang lima, gunakanlah masa mudamu sebelum tuamu, dan masa sihatmu sebelum sakitmu, dan kekayaanmu sebelum miskinmu, dan kesempatanmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.
Jangan Suka Bertangguh
Hai Abu Zar, awaslah jangan menangguh-nangguh sangat perbuatanmu, kerana engkau tergantung pada hari ini, dan bukan pada hari yang sesudahnya, maka apabila esok hari itu juga hakmu, maka lakukan sebagaimana hari ini, dan bila esok itu bukan hakmu, maka engkau tidak menyesal kerana tidak memperlambat apa yang harus kau perbuat hari ini.
Hai Abu Zar, berapa banyak orang yang menghadapi sehari tidak cukup, dan menantikan esok hari yang tidak sampai.
Bencikan Angan-angan
Hai Abu Zar, andaikan engaku dapat melihat ajal dan perjalanannya, nescaya kau akan membenci angan-angan dan tipudayanya.
Hai Abu Zar, jadilah di dunia bagaikan orang yang asing, atau seorang yang lalu lintas dan anggaplah dirimu dari golongan orang-orang yang dikubur.
Hai Abu Zar, jika kau berada di waktu pagi, maka jangan merasa akan sampai petang, dan jika berada di waktu petang, jangan merasa akan sampai pagi, dan pergunakan masa sihat sebelum sakit, dan masa hidup sebelum mati, sebab kau tidak mengetahui apakah namamu kelak di hari kemudian.
Jaga Keruntuhan Sebelum Tergelincir
Hai Abu Zar, jika kau tidak dapat menjaga keruntuhan, sebelum tergelincir, maka tidak akan dapat dielakkan tergelincir, dan tidak akan ada kesempatan untuk kembali, dan tidak akan memuji kepadamu dengan peninggalanmu orang-orang yang kau tinggalkan, dan tidak akan memaafkan padamu Tuhan yang kau hadapi dengan kesibukanmu. (Yakni Allah tidak akan memaafkan kepadamu jika kau beralasan masih sibuk.)
Sayangkan Umurmu
Hai Abu Zar, sayanglah pada umurmu, lebih daripada kesayanganmu terhadap wang emas dan perakmu.
Perkara Yang Dinanti
Hai Abu Zar, apakah yang dinantikan oleh seseorang, kecuali kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan atau penyakit yang merosak atau tua yang melemahkan, atau mati yang menghabisi, atau dajal, maka ia sejahat-jahat yang dinantikan atau saat hari kiamat, maka itu lebih seram dan pahit.
Sejahat-jahat Manusia Di Hari Qiamat
Sesungguhnya sejahat-jahat manusia di sisi Allah pada hari kiamat, ialah seorang alim yang tidak berguna dengan ilmunya dan siapa yang menuntut ilmu sekadar untuk menarik perhatian orang-orang kepadanya, maka ia tidak akan mendapat bau syurga.
Hai Abu Zar, siapa yang mencari ilmu untuk menipu orang-orang maka tidak akan mendapat bau syurga.
Adab Mengeluarkan Fatwa
Hai Abu Zar, jika kau ditanya sesuatu yang tidak kau ketahui, maka jawablah, saya tidak mengetahui supaya selamat dari tanggungjawabnya, dan jangan memberi fatwa terhadap apa yang tidak kau ketahui, supaya selamat dari siksa Allah pada hari kiamat.
Anjurkan Kebaikan Tapi Tak Mengerjakannya
Hai Abu Zar, akan melihat beberapa orang ahli syurga kepada orang-orang ahli neraka, lalu bertanya, apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka, padahal kami telah masuk syurga kerana didikan dan ajaran-ajaran kamu.Jawab mereka sesungguhnya kami dahulu menganjurkan kebaikan dan tidak mengerjakannya.
Waktu Bertaubat
Hai Abu Zar, sesungguhnya hak-hak Allah itu besar, tidak mungkin dapat dilaksanakan semuanya oleh hamba, dan nikmat kurnia Allah lebih banyak dari apa yang dapat dihitung oleh hamba tetapi hendaklah kamu di waktu pagi dan petang selalu bertaubat.
Menuai Hasil Tanaman
Hai Abu Zar, sesungguhnya kau dalam perjalanan malam dan siang menghadapi ajal yang selalu berkurang, dan amal yang tercatat, sedang maut akan datang secara tiba-tiba, dan siapa menanam kebaikan pasti akan mengetam kebaikan.
Dan siapa yang menanam kejahatan pasti akan mengetam kemenyesalan, dan bagi tiap-tiap penanam hasil apa yang ditanamnya, orang yang lambat tidak dapat mendahului walau sekejap, dan orang yang tamak tidak dapat mencapai apa yang tidak ditakdir baginya.
Siapa yang mendapat kebaikan maka Allah yang memberinya, dan siapa terhidar dari bahaya maka Allah yang menghindarkannya (menyelamatkannya)
Memandang Dosa
Hai Abu Zar, orang-orang yang bertaqwa itu orang-orang yang mulia, sedang ulama fiqah itu sebagai pemimpin dan duduk dengan mereka bererti bertambah ilmu. Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya itu bagaikan bukit besar yan gdikhuatiri akan jatuh padanya, sedang orang kafir memandang dosanya itu bagaikan lalat yang hingap di atas hidungnya.
Tanda Orang Mendapat Kebaikan
Hai Abu Zar, sesungguhnya Allah taala jika berkehendak kebaikan terhadap hambanya maka menjadikan dosa-dosanya terbayang di ruang matanya dan jika menghendaki binasanya maka dilupakan akan dosanya, jangan kau melihat kecilnya dosa, tetapi perhatikan kepada siapakah kau berdosa itu.
Gelisah Orang Mukmin
Hai Abu Zar, sesungguhnya seorang mukmin lebih gelisah terhadap dosanya lebih daripada burung ketika dimasukkan ke dalam sangkarnya.
Penyesuaian Perkataan Dengan Perbuatan
Hai Abu Zar, siapa yang bersesuaian perkataan dengan perbuatannya, maka itulah orang yang untung dan siapa yang berlawanan perkataan dengan perbuatannya, maka ia akan membinasakan dirinya.
Hai Abu Zar, seorang itu tertahan rezekinya kerana dosa yang dilakukannya.
Peliharalah Lidah
Hai Abu Zar, tinggalkan apa-apa yang masih kau ragukan. Dan jangan mengucapkan apa-apa yang bukan kepentinganmu, dan peliharalah lidahmu sebagaimana memelihara emas perakmu.
Sifat Ahli Syurga Tingkat Tinggi
Hai Abu Zar, sesungguhnya Allah akan memasukkan suatu kaum dalam syurga dan memberi kepada mereka hingga puas, sedang di atas mereka ada pula kaum di tingkat tertinggi. Maka apabila melihat mereka, dikenal lalu mereka berkata,
Ya Tuhan, mereka itu adalah kawan-kawan kami ketika di dunia, maka dengan apakah mereka dilebihkan dari kami? JawabNya,
Jauh sekali dengan kamu, mereka dahulu lapar ketika kamu kenyang, dan haus ketika kamu puas, dan bangun ketika kamu tidur dan tegak ketika kamu berbaring.
Kepuasan Sembahyang
Hai Abu Zar, Allah telah menjadikan kesenanganku dalam sembahyang dan aku puas dengan sembahyang itu sebagaimana puas orang lapar dengan makanan dan orang haus dengan air, sedang orang lapar jika makan kenyang dan orang haus jika minum puas, dan saya tidak merasa kenyang dari sembahyang ( Yakni tidak jemu-jemu sembahyang).
Mengetuk Pintu Rahmat
Hai Abu Zar, sesungguhnya selama kau bersembahyang, maka bererti kau sedang mengetuk pintu rahmat Tuhan dan siapa yang selalu mengetuk pintu raja pasti akan dibukakan baginya.
Rahmat Orang Bersembahyang
Hai Abu Zar, tiada seorang mukmin yang berdiri sembahyang melainkan bertaburan di atasnya rahmat antara kepalanya sampai arasy dan malaikat berkata: Hai anak Adam, andaikan kau mengetahui kedudukanmu ketika sembahyang dan siapa yang kau ajak bicara, nescaya kau tidak akan berhenti.
Penjara Orang Mukmin
Hai Abu Zar, dunia sebagai penjara bagi orang mukmin dan syurga bagi orang kafir. Dan tiap hari mukmin berdukacita. Dan bagaimana tidak akan berduka, padahal ia telah diperingatkan akan melalui jahanam tetapi tidak diberitahu bahawa ia keluar daripadanya dan akan yang menjengkelkannya bahkan adakalanya teraniaya dan tidak tertolong maka selalu ia dukacita sehingga berpisah. Apabila ia telah terpisah dengan dunia ini menjurus ke tempat kehormatan dan istirehatnya.
Hendaklah Menangis
Hai Abu Zar, siapa yang dapat menangis hendaklah menangis dan siapa yang tidak dapat hendaklah merasa sedih dalam hatinya dan berusaha untuk menangis. Sesungguhnya orang yang keras hati jauh dari Allah tetapi kamu tidak merasa.
Waktu Aman dan Takut
Hai Abu Zar,Allah telah berfirman dan bermaksud: "Aku tidak akan menghimpun dua kali takut da dua kali aman, pada hambaKu, jika ia merasa aman daripadaku di dunia maka akan Aku takutkan ia di hari kiamat, dan bila ia merasa takut kepadaKu di dunia Aku amankan ia di hari kiamat."
Bahaya Hari Qiamat
Hai Abu Zar, andaikan di hari kiamat itu ada seorang mempunyai amal tujuh puluh nabi pasti ia akan merasa remah semua amalannya itu, bahkan ia masih merasa takut tidak akan selamat dari bahaya hari kiamat.
Rabu, 07 Desember 2011
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI ANAK PERNAH MENDERITA DIARE DENGAN SIKAP IBU TERHADAP PENCEGAHAN DIARE
Nama : Muhammad ikbal
Nim : 090414-201020
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI ANAK PERNAH MENDERITA DIARE DENGAN SIKAP IBU TERHADAP PENCEGAHAN DIARE
A.Latar Belakang
Salah satu strategi pembanguanan kesehatan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat adalah Millenium Development Goals (MDGs) yang merupakan sebuah paket yang berisi delapan tujuan utama yang mempunyai batas waktu tahun 2015. Salah satu targetnya adalah menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. Dengan target MDG4 terkait dengan penurunan kematian balita(pradipta,2011).
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya di tandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari tiga kali sehari dan pada neonates lebih dari empat kali sehari dengan atau tanpa lender darah(Hidayat,A2006).
Individu usia di bawah 5 tahun merupakan usia rentan terkena diare karena anak-anak biasa daya tahan tubuhnya masih rendah sehingga sangat mudah terinfeksi virus(Anneahira,2011).
Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya diare terutama pada anak usia di bawah 5 tahun, salah satunya adalah pengetahuan ibu tentang diare. ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anaknya. Oleh karena itu status kesehatan anak sangat di pengaruhi oleh pengetahuan seorang ibu tentang suatu penyakit dan bagaimana cara mencegahnya.
Pengetahuan merupakan factor yang dapat mempengaruhi sikap seseorang. Dalam penentuan sikap, pengetahuan, pikiran, keyakinan memegang peranan penting. Jika seorang ibu mendengar penyakit diare seperti, penyebab, cara penularan, dan cara pencegahan, maka pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena penyakit diare. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan sehingga ibu tersebut berniat atau cendrung bertindak untuk melakuakan pencegahan penyakit diare agar anaknya tidak terserang diare.
Angka diare diperkirakan pada anak di dunia setiap tahunnya sebanyak 99.000.000 kasus, Sedangkan Sekitar 3,3 juta kematian akibat diare. Dan angka ini paling tinggi terjadi pada anak-anak di bawah satu tahun dengan perkiraan 20 kematian per 1.000 anak. Pada anak usia 1-5 tahun, angka kematiannya menurun atau hanya sekitar lima dari 1.000 anak(Murad,2011).
Data Indonesia menunjukkan kasus diare insidensi tahun 2010 411/1000 penduduk. Prevalensi diare lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di perdesaan dan 7,4 % di perkotaan. Diketahui bahwa proporsi terbesar penderita diare pada balita adalah kelompok umur 6 – 11 bulan yaitu sebesar 21,65% lalu kelompok umur 12-17 bulan sebesar 14,43%, kelompok umur 24-29 bulan sebesar 12,37%, sedangkan proporsi terkecil pada kelompok umur 54 – 59 bulan yaitu 2,06%(Depkes RI,2010).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau pada tahun 2003 angka kejadian diare di Provinsi Riau sebanyak 84.634, tahun 2004 sebanyak 87.660 orang dan pada tahun 2005 diare menempati urutan pertama dari sepuluh besar penyakit pada pasien rawat inap di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau(Anonim,2010).
Berdasarkan data yang di peroleh dari dinas kesehatan bangkinang pada tahun 2009 di dapatkan bahwa angka kejadian diare di puskesmas se kabupaten Kampar terdapat sebanyak 16.922 kasus diare yang sebagian besar terjadi pada anak usia 0-14 tahun(Dinas Kesehatan Kab. Kampar).
B. Perumusan Masalah
Beradasarkan latar belakang di atas , peneliti merumuskan masalah “ Apakah ada hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare terhadap pencegahan diare.
b. Untuk menganalisis hubungan sikap ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare terhadap pencegahan diare.
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian serta dapat memperoleh informasi tentang pengetahuan ibu yang mempunyai anak penderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare.
b. Bagi Pelayanan kesehatan
Sebagai bahan mausukan bagi petugas pelayanan kesehatan sehingga dapat di kembangkan upaya pencegahan penyakit diare.
c. Bagi Institusi
Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan sumber informasi sehingga memudahkan untuk mendapatkan bahan atau referensi pada penelitian selanjutnya.
Nim : 090414-201020
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU YANG MEMPUNYAI ANAK PERNAH MENDERITA DIARE DENGAN SIKAP IBU TERHADAP PENCEGAHAN DIARE
A.Latar Belakang
Salah satu strategi pembanguanan kesehatan nasional untuk mewujudkan Indonesia sehat adalah Millenium Development Goals (MDGs) yang merupakan sebuah paket yang berisi delapan tujuan utama yang mempunyai batas waktu tahun 2015. Salah satu targetnya adalah menurunkan angka kematian anak dan meningkatkan kesehatan ibu. Dengan target MDG4 terkait dengan penurunan kematian balita(pradipta,2011).
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya di tandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari tiga kali sehari dan pada neonates lebih dari empat kali sehari dengan atau tanpa lender darah(Hidayat,A2006).
Individu usia di bawah 5 tahun merupakan usia rentan terkena diare karena anak-anak biasa daya tahan tubuhnya masih rendah sehingga sangat mudah terinfeksi virus(Anneahira,2011).
Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya diare terutama pada anak usia di bawah 5 tahun, salah satunya adalah pengetahuan ibu tentang diare. ibu merupakan orang yang paling dekat dengan anaknya. Oleh karena itu status kesehatan anak sangat di pengaruhi oleh pengetahuan seorang ibu tentang suatu penyakit dan bagaimana cara mencegahnya.
Pengetahuan merupakan factor yang dapat mempengaruhi sikap seseorang. Dalam penentuan sikap, pengetahuan, pikiran, keyakinan memegang peranan penting. Jika seorang ibu mendengar penyakit diare seperti, penyebab, cara penularan, dan cara pencegahan, maka pengetahuan ini akan membawa ibu untuk berfikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena penyakit diare. Dalam berfikir ini komponen emosi dan keyakinan sehingga ibu tersebut berniat atau cendrung bertindak untuk melakuakan pencegahan penyakit diare agar anaknya tidak terserang diare.
Angka diare diperkirakan pada anak di dunia setiap tahunnya sebanyak 99.000.000 kasus, Sedangkan Sekitar 3,3 juta kematian akibat diare. Dan angka ini paling tinggi terjadi pada anak-anak di bawah satu tahun dengan perkiraan 20 kematian per 1.000 anak. Pada anak usia 1-5 tahun, angka kematiannya menurun atau hanya sekitar lima dari 1.000 anak(Murad,2011).
Data Indonesia menunjukkan kasus diare insidensi tahun 2010 411/1000 penduduk. Prevalensi diare lebih banyak di perdesaan dibandingkan perkotaan, yaitu sebesar 10% di perdesaan dan 7,4 % di perkotaan. Diketahui bahwa proporsi terbesar penderita diare pada balita adalah kelompok umur 6 – 11 bulan yaitu sebesar 21,65% lalu kelompok umur 12-17 bulan sebesar 14,43%, kelompok umur 24-29 bulan sebesar 12,37%, sedangkan proporsi terkecil pada kelompok umur 54 – 59 bulan yaitu 2,06%(Depkes RI,2010).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Riau pada tahun 2003 angka kejadian diare di Provinsi Riau sebanyak 84.634, tahun 2004 sebanyak 87.660 orang dan pada tahun 2005 diare menempati urutan pertama dari sepuluh besar penyakit pada pasien rawat inap di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau(Anonim,2010).
Berdasarkan data yang di peroleh dari dinas kesehatan bangkinang pada tahun 2009 di dapatkan bahwa angka kejadian diare di puskesmas se kabupaten Kampar terdapat sebanyak 16.922 kasus diare yang sebagian besar terjadi pada anak usia 0-14 tahun(Dinas Kesehatan Kab. Kampar).
B. Perumusan Masalah
Beradasarkan latar belakang di atas , peneliti merumuskan masalah “ Apakah ada hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Mengetahui hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk menganalisis hubungan pengetahuan ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare terhadap pencegahan diare.
b. Untuk menganalisis hubungan sikap ibu yang mempunyai anak yang pernah menderita diare terhadap pencegahan diare.
D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Sebagai suatu pengalaman belajar dalam kegiatan penelitian serta dapat memperoleh informasi tentang pengetahuan ibu yang mempunyai anak penderita diare dengan sikap ibu terhadap pencegahan diare.
b. Bagi Pelayanan kesehatan
Sebagai bahan mausukan bagi petugas pelayanan kesehatan sehingga dapat di kembangkan upaya pencegahan penyakit diare.
c. Bagi Institusi
Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan dan sumber informasi sehingga memudahkan untuk mendapatkan bahan atau referensi pada penelitian selanjutnya.
Selasa, 06 Desember 2011
tinjauan teoritis tentang diare
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Tinjauan Teoritis
1. Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil ”tahu” dan ini terjadi setelah orang mengadakan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terhadap obyek terjadi melalui panca indra manusia yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu pengindraan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian persepsi terhadap obyek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. (Notoatmodjo,2003)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior) (Notoatmodjo,2003)
Pengetahuan yang cukup didalam domain kognitif mempunyai 6 tingkat yaitu :
1) Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu ”tahu” ini adalah merupakan tingkat pengetahuan yang paling rencah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari yaitu menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan dan sebagainya.
2) Memahami ( comprehension)
Memahami artinya sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dimana dapat menginterprestasikan secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi terus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap suatu objek yang dipelajari.
3) Aplikasi ( Application )
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi ataupun kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.
4) Analisis ( Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menyatakan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5) Sintesis ( synthesis )
Sintesis yang dimaksud menunjukkan pada suatu kemampuan untuk melaksanakan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi yang ada.
6) Evaluasi ( Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
2. Sikap
a. Defenisi Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. (Notoatmodjo, 2003).
b. Tingkatan Sikap
Tingkatan Sikap menurut Notoatmodjo (2007: 144)
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).
2) Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
3) Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
4) Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko merupakan sikap yang paling tinggi.
c. Komponen Sikap
Benyamin Bloom (1908) dikutip dalam Notoadmodjo (2007: 139) membagi perilaku manusia itu ke dalam 3 domain, ranah atau kawasan yakni:
a) kognitif (cognitive)
b) afektif (affective)
c) psikomotor (psychomotor)
Dalam bagian lain Allport (1954) dikutip dalam Notoadmodjo, (2007: 143) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
Dalam bagian lain Allport (1954) dikutip dalam Notoadmodjo, (2007: 143) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok, yaitu:
1) Kepercayaan (keyakinan), ide, dan konsep terhadap suatu objek.
2) Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3) Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave).
(Notoadmodjo, 2007: 143).
3. Konsep Dasar Diare
a. Defenisi Diare
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya di tandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari tiga kali sehari dan pada neonates lebih dari empat kali sehari dengan atau tanpa lender darah(Hidayat,A2006).
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari .
Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat relatif terhadap kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang berkepanjangan (Soegijanto, 2002).
b. Etiologi
Menurut Widjaja (2002), diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorpsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan dan faktor psikologis.
1) Faktor infeksi
Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi yang umumnya menyerang antara lain:
a) Infeksi oleh bakteri: Escherichia colin, Salmonella thyposa, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti pseudomonas. Infeksi basil (disentri),
b) Infeksi virus Rotavirus, Norwalk dan norwalk like agen dan adenovirus
c) parasit, misal: cacing perut, Ascaris, Trichiuris, Strongyloides, Blastsistis huminis, protozoa, Entamoeba histolitica, Giardia labila, Belantudium coli dan Crypto
d) Infeksi jamur (Candida albicans).
e) Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis dan radang tenggorokan, dan
f) Keracunan makanan
2) Faktor malabsorpsi
Faktor malabsorpsi dibagi menjadi dua yaitu malabsorpsi karbohidrat dan lemak. Malabsorpsi karbohidrat, pada bayi kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula dapat menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, dan sakit di daerah perut. Sedangkan malabsorpsi lemak, terjadi bila dalam makanan terdapat lemak yang disebut triglyserida. Triglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorpsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat muncul karena lemak tidak terserap dengan baik.
3) Faktor makanan
Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran) dan kurang matang. Makanan yang terkontaminasi jauh lebih mudah mengakibatkan diare pada anak dan balita.
4) Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak dapat menyebabkan diare kronis. Tetapi jarang terjadi pada balita, umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.
c. Patofisiologi
Menurut Depkes (2010) proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan, diantaranya:
1) Faktor infeksi
Proses ini dapat diawali adanya mikroba atau kuman yang masuk dalam saluran pencernaan yang kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat menurunkan daerah permukaan usus selanjutnya terjadi perubahan kapasitas usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorbsi cairan dan elektrolit atau juga dikatakan bakteri akan menyebabkan sistem transporaktif dalam usus sehingga sel mukosa mengalami iritasi yang kemudian sekresi cairan dan elektrolit meningkat.
2) Faktor malabsorbsi
Merupakan kegagalan dalam melakukan absorbsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare.
3) Faktor makanan
Dapat terjadi peningkatan peristaltik usus yang mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian menyebabkan diare.
4) Faktor psikologis
Keadaan psikologis seseorang dapat mempengaruhi kecepatan gerakan peristaltik usus yang akhirnya mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare.
d. Jenis diare
Penyakit diare menurutDepkesRI(2000), berdasarkan jenisnya dibagi menjadi empat yaitu :
1) Diare Akut
Diare akut yaitu, diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7 hari). Akibatnya adalah dehidrasi, sedangkan dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
2) Disentri
Disentri yaitu, diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat, dan kemungkinan terjadinnya komplikasi pada mukosa.
3) Diare persisten
Diare persisten, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus. Akibat diare persisten adalah penurunan berat badan dan gangguan metabolisme.
4) Diare dengan masalah lain
Anak yang menderita diare (diare akut dan diare persisten) mungkin juga disertai dengan penyakit lain, seperti demam, gangguan gizi atau penyakit lainnya.
Diare akut dapat mengakibatkan: (1) kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis metabolik dan hipokalemia, (2) Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah, (3) Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah (Soegijanto, 2002).
Diare mengakibatkan terjadinya:
a) Kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, dan asidosis metabolik.
b) Gangguan sirkulasi darah dapat berupa renjatan hipovolemik atau prarenjatan sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai dengan muntah, perpusi jaringan berkurang sehingga hipoksia dan asidosismetabolik bertambah berat, kesadaran menurun dan bila tak cepat diobati penderita dapat meninggal.
Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan muntah, kadang-kadang orang tuanya menghentikan pemberian makanan karena takut bertambahnya muntah dan diare pada anak atau bila makanan tetap diberikan dalam bentuk diencerkan. Hipoglikemia akan lebih sering terjadi pada anak yang sebelumnya telah menderita malnutrisi atau bayi dengan gagal bertambah berat badan. Sebagai akibat hipoglikemia dapat terjadi edema otak yang dapat mengakibatkan kejang dan koma (Suharyono, 2008).
e. Gejala diare
Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis metabolik. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan defisit air dan atau keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila defisit melampaui 15% (Soegijanto, 2002).
Gejala diare atau mencret adalah tinja yang encer dengan frekuensi empat kali atau lebih dalam sehari, yang kadang disertai: muntah, badan lesu atau lemah, panas, tidak nafsu makan, darah dan lendir dalam kotoran, rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Selain itu, dapat pula mengalami sakit perut dan kejang perut, serta gejala- gejala lain seperti flu misalnya agak demam, nyeri otot atau kejang, dan sakit kepala. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah atau demam tinggi (Amiruddin, 2007).
Menurut Ngastisyah (2005) gejala diare yang sering ditemukan mula-mula pasien cengeng, gelisah, suhu tubuh meningkat, nafsu makan berkurang, tinja mungkin disertai lendir atau darah, gejala muntah dapat timbul sebelum dan sesudah diare. Bila penderita benyak kehilangan cairan dan elektrolit, gejala dehidrasi mulai nampak, yaitu berat badan menurun, turgor berkurang, mata dan ubun-ubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering.
Dehidrasi merupakan gejala yang segera terjadi akibat pengeluaran cairan tinja yang berulang-ulang. Dehidrasi terjadi akibat kehilangan air dan elektrolit yang melebihi pemasukannya (Suharyono, 1986). Kehilangan cairan akibat diare menyebabkan dehidrasi yang dapat bersifat ringan, sedang atau berat.
f. Penatalaksanaan diare
Pemeriksaan etiologi diare secara rutin di laboratorium tidak praktis dan gejala kliniknya juga tidak sfecifik. Oleh kaarena nya pengobatan penderita diare harus berdasarkan pada gejala utama penyakit dan pengertian dasar tentang mekanisme patogenesisnya. Prinsip utama pengobatannya adalah sebagai berikut :
1) Diare membutuhkan pergantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya
2) Makanan di haruskan bahwa harus di tingkatkan selama diare menghindarkan efek buruk pada gizi. Antibiotic boleh di gunakan secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare dengan panas kecuali pada disentri yang harus di obati dengan dengan antimikroba yang aktif untuk singgela. Penderita-pendrita yang tidak memberi respon dengan pengobatan ini harus di teliti terlebih dahulu atau di obati untuk kemungkinan ameobiasis.
g. Pencegahan diare
Di bawah ini adalah beberapa hal yang harus dilakukan untuk mencegah agar anak-anak tidak terjangkit penyakit diare, hal-hal tersebut adalah:
1) Memberikan ASI
ASI turut memberikan perlindungan terhadap terjadinya diare pada balita karena antibodi dan zat-zat lain yang terkandung di dalamnya memberikan perlindungan secara imunologi.
2) Memperbaiki makanan pendamping ASI
Perilaku yang salah dalam pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan resiko terjadinya diare sehingga dalam pemberiannya harus memperhatikan waktu dan jenis makanan yang diberikan. Pemberian makanan pendamping ASI sebaiknya dimulai dengan memberikan makanan lunak ketika anak berumur 6 bulan dan dapat diteruskan pemberian ASI, setelah anak berumur 9 bulan atau lebih, tambahkan macam makanan lain dan frekwensi pemberikan makan lebih sering (4 kali sehari). Saat anak berumur 11 tahun berikan semua makanan yang dimasak dengan baik, frekwensi pemberiannya 4-6 kali sehari.
3) Menggunakan air bersih yang cukup
Resiko untuk menderita diare dapat dikurangi dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanannya di rumah.
4) Mencuci tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan.
5) Menggunakan jamban
Upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko penularan diare karena penularan kuman penyebab diare melalui tinja dapat dihindari.
6) Membuang tinja bayi dengan benar
Membuang tinja bayi ke dalam jamban sesegera mungkin sehingga penularan kuman penyebab diare melalui tinja bayi dapat dicegah.
7) Memberikan imunisasi campak
Anak yang sakit campak sering disertai diare sehingga imunisasi campak dapat mencegah terjadinya diare yang lebih parah lagi (Depkes, 2010).
B. Penelitian Terkait
Adapun penelitian terkait, yaitu :
1) Gunawan wibisono(2009).penelitian yang berjudul hubungan antara pengetahuan orang tua tentang diare dengan prilaku orang tua dalam pencegahan diare di wilayah kerja puskesmas kismantoro kabupaten wonogiri. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dimana pengukuran variabel dilakukan satu kali. Populasinya adalah kepala keluarga yang mempunyai anak di bawah 5 tahun dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Kismantoro Kabupaten Wonogiri yaitu sejumlah 285 Kepala Keluarga. Pengambilan sampel secara simple random sampling dengan jumlah sampel 35 sampel, pengambilan data menggunakan kuesioner dan uji statistik chi square dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil dan Kesimpulan : Penelitian menunjukkan bahwa bahwa nilai chi square hitung 41,552 (p = 0,000 < p = 0,05) yang berarti ada hubungan antara pengetahuan orangtua tentang diare dengan perilaku orangtua dalam pencegahan diare di wilayah kerja Puskesmas Kismantoro Kabupaten Wonogiri.
2) Sri pratiwi(2003). Penelitian yang berjudul hubungan pengetahuan, sikap dan praktik ibu terhadap pencegahan penyakit diare pada anak berusia di bawah umur lima tahundi desa Mojogedang. Metode penelitian ini dikumpulkan dengan metode explanatory survey yang menggunakan pendekatan cross sectional. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji Spearmen Rank. Sampel penelitian adalah ibu yang mempunyai anak balita di desa Mojogedang sebanyak 67 orang. Hasil penelitian menunjukkan 88,1% responden berumur 20-35 tahun; 44,8% tamat SD dan 62,7% buruh tani. Berdasarkan pengetahuan, sikap dan praktik yang dimiliki responden 41,8% berpengetahuan kurang, 46,3% bersikap kurang dan 49,8% mempunyai praktik kurang. Hasil dari analisa statistik dapat disimpulkan, bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap responden; pengetahuan dengan praktik responden dan sikap dengan praktik responden dalam pencegahan penyakit diare pada anak berusia di bawah umur lima tahun. Untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik responden dalam pencegahan penyakit diare, dianjurkan responden di desa Mojogedang rajin mendatangi penyuluhan terutama penyuluhan mengenai diare dan apabila anaknya sakit diare segera dibawa ke sarana pelayanan kesehatan (Pusat Kesehatan Masyarakat) terdekat.
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep yang ingin di amati atau di ukur melalui penelitian – penelitian yang di lakukan (Notoatmodjo,2005).
Adapun skema konsep pada penelitian ini, yaitu hubungan antar variable independent (pengetahuan ibu) dan variable dependent (sikap ibu terhadap pencegahan diare) di jelaskan dalam skema sebagai berikut :
Skema kerangka konsep
|
|
Langganan:
Postingan (Atom)